Pages

Wednesday, October 28, 2009

Sumpah Pemuda Bagi Generasi Muda: Sebuah Tantangan


Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, Tanah Air Indonesia.
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, Bangsa Indonesia.
Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung tinggi bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.

Sumpah Pemuda yang kita peringati setiap tanggal 28 Oktober mempunyai arti penting bagi bangsa Indonesia. Dimana dengan dipersatukannya kita oleh Tanah Air, Bangsa dan Bahasa maka sudah sepantasanya kita berbangga akan identitas yang kita miliki.
Tapi di jaman sekarang apa sih makna Sumpah Pemuda???

Kenyataan di jaman sekarang yang terjadi adalah mulai memudarnya nilai-nilai Sumpah Pemuda bagi rakyat Indonesia dan para generasi muda khususnya...

Kita sudah mulai melupakan rasa cinta kita terhadap Tanah Air kita. Meskipun berbagai cobaan sedang menghadang kita seperti masalah ekonomi, teroris, bencana, keamanan, masalah politik, dan lain-lain, seharusnya itu menjadi pelecut semangat bagi para generasi muda untuk lebih mencintai negaranya. Dukungan rakyat terhadap negaranya merupakan faktor utama bangkitnya sebuah negara.

Memudarnya nilai cinta tanah air juga disebabkan pengaruh budaya asing yang masuk ke Indoensia. Dengan alasan keterbukaan informasi, kita seakan-akan terlena akan masuknya budaya asing yang dapat mendegradasikan moral generasi muda kita. Generasi muda sebaiknya bisa menempatkan budaya mana yang pantas dan sesuai dengan budaya Indonesia dan pemerintah harus cermat menyaring dan melakukan pengawasan akan budaya asing yang masuk ke Indonesia. Pengawasan yang ketat dan tegas oleh pemerintah terhadap penyalahgunaan budaya asing dan kesadaran diri para generasi muda dapat mengurangi pelanggaran norma-norma yang dilakukan oleh bangsa Indonesia.

Rasa cita tanah air juga dapat diwujudkan dengan mencintai kebudayaan sendiri dan berusaha melestarikannya. Sudah banyak kebudayaan kita yang diklaim oleh negara tetangga, siapa yang disalahkan? Kalau boleh jujur, sebenarnya itu adalah salah kita...salah para generasi muda bangsa ini. Kita lebih menyukai breakdance dari pada Reog, kita lebih suka menonton film Hollywood daripada melihat wayang, sangat wajar jika negara tetangga melihat sikap kita yang tidak mencitai budaya sendiri lantas mengakui Reog dan wayang sebagai budayanya? Apakah itu salah??? Baru setelah kebudayaan kita dicuri, kita teriak-teriak, memaki-maki bahkan sampai membakar bendera segala. Kenapa gak kita biasakan untuk lebih mencintai budaya sendiri. Ingat kita ini adalah bangsa yang mempunyai peradaban tinggi, sebuah bangsa yang mempunyai warisan leluhur yang sangat banyak, tidak sepantasnya jika kita lebih mencintai budaya orang lain dari pada budaya sendiri.

Bangsa Indonesia terdiri dari bermacam-macam suku yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Dengan disatukan oleh semangat Bhinika Tunggal Ika harusnya kita menjadi bangsa yang mandiri dan kuat. Namun bangsa Indonesai ini seolah-olah terjebak kedalam konflik sosial. Kecemburuan sosial, benturan budaya, maupun perbedaan etnis dan agama menjadi tantangan sendiri bagi generasi muda dalam membangun negara Indonesia.

Bangsa Indonesia harus menjadi bangsa yang besar dan mendapat tempat yang istimewa di dunia internasional, jadi sebagai generasi muda kita mulai dengan hal yang kecil disekitar kita, salah satunya adalah dengan saling menghormati antar sesama. Bangsa Indonesai dikenal sebagai bangsa yang santun dan ramah, seharusnya rasa tenggang rasa dan saling menghormati antar sesama dapat dilakukan untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan. Kita melihat sendiri, misalnya bentrokan yang terjadi hanya dipicu oleh masalah sepele, dimanakah rasa saling menghormati perbedaan pendapat yang pernah diajarkan kepada kita?

Masalah bahasa merupakan masalah yang perlu diwaspadai oleh pemerintah dan para generasi muda. Betapa sekarang ini generasi muda lebih menyukai penggunaan bahasa gaul yang terkontaminasi oleh budaya asing dari pada menggunakan bahasa Indonesia dalam pergaulan sehari-hari. Bahkan tidak hanya oleh generasi muda, para birokratpun sering menggunakan bahasa Indonesia yang disisipi bahasa asing yang tidak sesuai atau mungkin sebenarnya tidak perlu.

Bahasa merupakan suatu ciri yang menandakan identitas suatu bangsa sudah sepantasnya kita menghargai dan melestarikan bahasa kita Bahasa Indonesia. Alangkah bangganya kita jika suatu saat nanti Bahasa Indonesia (bukan bahasa Melayu) dijadikan bahasa internasional atau bahasa resmi PBB.


Jadi...cintailah Tanah Air-mu, Bangsa-mu, dan Bahasa-mu dari sekarang agar kelak dikemudian hari anak cucu kita mendapatkan hasilnya, yaitu sebuah Indonesia yang bersatu, damai, sejahtera dan memimpin dunia.

No comments:

Post a Comment

Post a Comment